Jumat, 04 September 2009

Dhian Dipo, SKM,MA (HMPP) Ditjen Bina Gizi Masyarakat Depkes Masih Banyak Masyarakat Yang Mengalami Malnutritition di Indonesia


Dhian Dipo,SKM,MM (HMPP)
Media Center, FKUB
Micronutrient Malnutrition (MNM/vitamin dan mineral) merupakan ancaman serius terhadap kesehatan dan produktivitas pada lebih dari 2000 juta manusia di dunia walaupun telah dilakukan pencegahan besar-besaran. Dari data yang berhasil dihimpun Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI), masih banyak masyarakat yang mengalami malnutrition jenis ini di berbagai daerah. Disebutkan Dhian P. Dipo, SKM, MA (HMPP) dari Direktorat Bina Gizi Depkes, dalam beberapa jenis micronutrient seperti garam beryodium, baru 6 (enam) propinsi yang memenuhi target. Sementara, baru 2 (dua) propinsi saja yang memenuhi target untuk penambah darah dan 15-23 propinsi yang telah memenuhi target dalam memberikan Vitamin A Supplementation (VAS). Melihat kondisi ini, maka pemerintah RI, disampaikan Dhian Dipo, memiliki beberapa kebijakan diantaranya meningkatkan akses dan mutu layanan gizi di tingkat bawah, mengadakan suplementasi (obat penambah gizi), revitalisasi posyandu, meningkatkan kewaspadaan terhadap gizi buruk serta intensifikasi Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi). Di Indonesia, program kadarzi telah rutin diselenggarakan melalui penimbangan anak secara berkala dan teratur, ASI ekslusif, konsumsi garam beryodium, diversifikasi jenis makanan serta suplementasi gizi.
Dalam merealisasikan kebijakan ini, menurut Dhian Dipo, Depkes telah menjalankan beberapa program diantaranya distribusi obat penambah gizi, mendidik masyarakat untuk melakukan diversifikasi makanan, pemantauan status gizi serta fortifikasi pangan. Program fortifikasi pangan yang telah dijalankan meliputi penambahan vitamin A dalam minyak, Fe (zat besi) dalam tepung serta Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP ASI).

Suplementasi
Implementasi VAS menjadi penelitian khusus bagi Rosmani Verba Pangaribuan, MPH, Dr.rer.nat dari Southeast Asian Ministers of Education Organization Tropical Medicine Regional Center for Community Nutrition (SEAMEO-TROPMED RCCN). Melalui penelitian tersebut ia melakukan survey manajemen VAS di 3 (tiga) propinsi yaitu Lampung, Kalimantan Barat dan Sulawesi Tenggara. Penelitian ini dilatarbelakangi rendahnya outcome yang diperoleh walaupun VAS telah 3 (tiga) dekade dijalankan di Indonesia. Dari temuannya, ia mendapatkan banyaknya Vitamin A Capsules (VAC) yang tidak terdistribusi hingga menjadi kadaluwarsa. Hal ini menurutnya disebabkan tidak adanya koordinasi antar level pada Departemen Kesehatan. Akibatnya proses birokrasi pun memakan waktu, sehingga logistik VAS melebihi masa kadaluwarsanya. Dari hasil temuan ini, Rosmani Pangaribuan memberikan rekomendasi agar lebih sering dilakukan koordinasi pada setiap level sampai pada kader posyandu yang ada di level terbawah. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat mengenai VAS disamping pendidikan nutrisi kepada ibu muda.
Alasan pemakaian suplementasi disampaikan oleh peneliti lainnya dari SEAMEO-TROPMED RCCN, Siti Muslimatun, PhD. Suplementasi, dinilainya dapat membantu memenuhi kebutuhan beberapa micronutrient yang jumlahnya sangat terbatas jika diperoleh dari makanan saja. Dalam presentasinya, Siti Muslimatun memaparkan "experience of Maternal Supplementation in Indonesia". Sementara itu, Basuki Budiman, Ir. MSc (PH) dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Bogor memaparkan mengenai "Assessment of Iodine Deficiency Disorders and Monitoring Their Ellimination and Lesson Learned of Capsule Iodine Supplementation Programme in Indonesia".

Fortifikasi
Fortifikasi pangan adalah penambahan satu atau lebih nutrisi pada makanan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan konsumsi dari nutrisi yang ditambahkan guna menambah status nutrisional pada sebuah target populasi. Hal ini dijelaskan oleh Dr. dr. Elvina Karyadi, MSc dari Micronutrient Initiative (MI) Indonesia dalam paparannya yang berjudul "Opportunities and Challenge for Food Fortification in Indonesia". Lebih lanjut dipaparkannya, pengendalian micronutrient (vitamin dan mineral) merupakan bagian yang paling penting dari seluruh usaha melawan kelaparan dan malnutrisi. Beberapa usaha berbasis pangan seperti fortifikasi makanan, diversifikasi makanan, pendidikan nutrisi, kesehatan masyarakat dan pengukuran keamanan pangan harus dilakukan secara simultan. Di Indonesia, Micronutrient Malnutrition (MNM) biasanya terjadi pada zat besi, vitamin A dan yodium. Kunci sukses fortifikasi makanan disampaikan secara khusus oleh Josafat Siregar, STP, MM dari PT. Indofood Sukses Makmur Tbk dalam kasus fortifikasi tepung terigu.


Micronutrient dan Infeksi
Kasus infeksi berkaitan dengan micronutrient yang diangkat dalam kesempatan tersebut diantaranya adalah malaria, Tuberculosis (TBC), genome micronutrigenomic serta manajemen nutrisi untuk penderita Diabetes. Dalam hal infeksi malaria misalnya, Dr. Loeki Enggar Fitri memaparkan temuannya bahwa kekurangan micronutrient berperan penting dalam proses pathogenesis malaria serta pengurangan aktivasi dari T limphosit. Dijelaskannya, selama infeksi malaria terdapat kondisi yang disebut immune-suppression pada akhir tahapan infeksi, atau bahkan penyerangan terhadap eritrosit oleh parasit. Mengatasi hal ini, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara mineral dan zat antioksidan untuk mengurangi gejala klinis. Dari penelitiannya, diketahui bahwa mineral seperti zat besi serta vitamin A, C, E dan Bheta Group dapat mengganti zat-zat oksidative yang telah jenuh. Dalam penelitiannya, ia menggunakan vitamin C serta buah merah sebagai antioksidan herbal yang mengandung vitamin C dan E untuk mengatasi malaria. Kesimpulan yang diperoleh adalah bahwa vitamin C dan E dapat digunakan sebagai terapi sementara untuk menambah kekebalan sel dan mengurangi aktivitas apoptotic. [ard)]
.

Tidak ada komentar: